Monday, 6 May 2013
[Review] Warung Bakso Pak Mino
Tuesday, 30 April 2013
[Obrolan Dapur] Kuliner Ngangenin
Beberapa kali saya kedatangan teman dari luar kota, dan mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik dan benar saya pun membawa teman-teman saya tersebut untuk jalan-jalan di kota Solo dan menikmati kuliner yang ada. Dan masing-masing dari mereka mempunyai cerita tersendiri mengenai kuliner kota Solo.
Dan teman saya menambahkan
"Namanya nge hits yak."
Saya hanya ketawa ngakak mendengarnya.
Btw yang penasaran dengan kuliner ini, wajib datang ke Solo dan nyobain sendiri makanannya :D
Monday, 29 April 2013
[Resep] Sayur Jantung Pisang
- Didihkan air, tambahkan sedikit garam, rebus jantung pisang sampai empuk (kurang lebih 20 menit), angkat tiriskan, buang airnya.
- Haluskan semua bumbu kecuali daun salam dan daun jeruk.
- Rebus air hingga mendidih, berturut-turut masukkan bumbu halus, daun jeruk, daun salam, jantung pisang yang sudah di rebus, cabe kering, terakhir masukkan kelapa parut. Masak hingga mendidih.
- Terakhir tambahkan garam dan merica secukupnya.
- Angkat, siap untuk disajikan.
- Jantung pisang direbus dahulu untuk menghilangkan getahnya.
- Hampir semua jenis jantung pisang bisa digunakan untuk bahan baku masakan ini, tapi biasanya saya menggunakan jantung pisak kepok atau pisang raja.
Saturday, 27 April 2013
[Resep] Nasi Isi Piramida
Kali ini saya akan memasak olahan beras/nasi dengan isian. Merupakan perpaduan antara arem-arem dengan ba'cang. Keduanya merupakan olahan beras (ba'cang menggunakan beras ketan) dengan isian yang di bungkus daun. Untuk masakan kali ini saya menggunakan beras biasa (bisa juga diganti beras ketan) dan saya bungkus daun pisang dengan bentuk limas segi empat (sehingga sekilas mirip ba'cang), seperti biasa untuk isiannya bisa divariasikan sesuai selera masing-masing. Berikut resep dan cara pembuatannya.
- Aron nasi bersama air kaldu, daun pandan dan daun salam ditambah garam sampai kaldu terserap, sisihkan dan dinginkan.
- Tumis bawang putih sampai harum, masukkan ayam dan wortel, masak sampai ayam berubah warna dan wortel layu.
- Tambahkan irisan daun bawang, aduk sebentar.
- Masukkan kaldu dan kecap, masak hingga kaldu menyusut. Tambahkan garam dan merica, aduk rata, angkat, sisihkan.
- Ambil selembar daun pisang, bentuk kerucut, masukkan 1 sdm nasi aron tekan-tekan, masukkan 1 sdm isian diatasnya, terakhir tutup dengan 1 sdm nasi aron, tekan-tekan dan ratakan.
- Lipat daun pisang sambil ditekan-tekan untuk memadatkan nasi, lakukan sampai adonan habis.
- Panaskan kukusan, kukus nasi yang sudah dibungkus daun pisang selama 30 menit, angkat, sajikan.
- Untuk 15 bungkus.
- Air kaldu untuk memasak nasi bisa diganti dengan santan jika suka
- Jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis berasnya, jika suka nasi yang pera bisa ditambahkan cairan, sebaliknya jika suka nasi yang pulen/cenderung keras kurangi jumlah cairannya.
- Adonan isi bisa di variasikan sesuai selera, daging ayam bisa diganti dengan daging sapi, kambing, tempe, tahu atau yang lainnya.
Friday, 5 April 2013
[Obrolan Dapur] Kisah Tahu Aci
Pada jaman dahulu kala, saya pernah main ke rumah teman saya di Slawi dan disana saya disuguhi salah satu makanan khas daerah Slawi (dan sekitarnya) yaitu tahu aci. Makanan biasa yang bisa ditemui setiap harinya di daerah tersebut, tapi entah kenapa bikin nagih kalau saya bilang.
Hingga akhirnya ketika kemarin teman saya yang dari Tegal bilang
"Mas, aku mau main ke Solo, minta dibawain oleh-oleh apa?"
Tanpa berpikir panjang saya langsung berkata
"Bawain tahu aci aja deh."
Udah lama banget ndak makan tahu aci, rasanya udah kayak perempuan nyidam dah :))
Ketika akhirnya teman saya tiba di Solo, beneran dibawain tahu aci. Bayangan saya sih ya dibawain berapa biji gitu lah ya. Eh nggak taunya sampai dua besek (wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu). Udah gitu ternyata tahunya masih mentah dan adonan acinya dibungkus terpisah. Trus kalau di hitung-hitung jumlahnya ada 100 biji. Nah lho?
Saya suka (pake banget) dengan segala macem gorengan, apalagi tahu (segala macam jenis tahu dari tahu biasa, tahu isi sayuran, tahu bakso, dll, dll). Tapi kalau segitu banyaknya ya... gimana yah??? *garuk-garuk kepala*
Udah gitu orang rumah nggak seheboh saya dalam menghadapi serangan tahu aci ini *halah bahasanya*. Kemarin sempat juga goreng banyak trus dibawa ke sekolah buat dibagi ke temen-temen, tapi koq ya teteup aja masih ada banyak.
Ndak ada yang terlalu istimewa sebenarnya dari sebuah tahu aci. Hanya tahu biasa yang bertekstur kenyal (bukan yang bertekstur lembut) yang di oles dengan adonan aci dengan bumbu bawang, merica dan cincangan daun seledri serta daun bawang.
Tapi koq ya ngangenin yah???
Tuesday, 12 March 2013
[Review] Waroeng Mbok Marni
Pertama kalisaya tahu tempat makan ini beberapa minggu lalu sewaktu saya berjalan-jalan di CFD. Saya pikir,
"Wah asyik nih kayaknya, kapan-kapan harus dicoba."
Dan minggu lalu sempat browsing twitter dan nemu akunnya. Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah foto es dawetnya. Langsung ngiler saat ini juga, kayaknya seger deh :))
Rencanya hari Minggu kemarin saya mau kesini, namun apa daya karena hujan akhirnya baru hari ini saya sempat kesini. Memasuki Walaupun namanya Waroeng, tapi penataannya modern dan bersih, ada dua pilihan tempat duduk, lesehan atau duduk di kursi. Dan bagi yang memilih lesehan tidak perlu khawatir karena disediakan lubang dibawah meja sehingga kaki tidak perlu ditekuk.
Untuk kali ini saya memesan Tumis Sawi Hijau Hot Plate, sepiring nasi dan tentu saja segelas es dawet. Agak lama juga menunggu, pesanan pun akhirnya datang juga. Aroma tumis sawi nya semerbak kemana-mana, aroma bawang membuat perut semakin kenceng dangdutan nya :))
Tumis sawi nya just a bit salty jika dimakan tanpa nasi, tapi dengan nasi rasanya jadi pas. Tadi saya sempat minta agar jangan pedas-pedas karena perut lagi bermasalah :p Dan pedesnya pas seperti yang saya harapkan. Cukup berasa tapi ndak yang sampai nampol :))
Es dawetnya sendiri quite a surprise for me, walaupun rumah makan tapi rasa es dawetnya masih otentik, seperti kalau saya beli es dawet di pasar tradisional. Santannya juga santan asli, bukan santan instan, cendolnya terbuat dari tepung beras ditambah nangka yang diiris kecil2 serta tambahan gula jawa dan vanila untuk penambah rasa, pas banget diminum siang-siang panas gini.
Kekurangan dari tempat makan ini adalah musiknya yang (menurut saya) terlalu kenceng diputernya, coba klo dimuat lebih pelan dikit rasanya jadi lebih santai menikmati hidangan dan suasana di rumah makan ini.
Over all 3,5 out of 5 stars untuk tempat makan ini. Btw anyway busyway koneksi wifinya juga kenceng, cocok buat yang suka ngenet. Sayangnya colokan listriknya ndak banyak, jadi yang bawa laptop harus pinter-pinter nyari tempat duduknya.
Waroeng Mbok Marni
Jl. Slamet Riyadi No. 121 Solo





10:50 am
Djaw!




